Memaafkan dan Memperbaiki Hubungan dengan Sesama di Hari Raya

 

Memaafkan dan Memperbaiki Hubungan dengan Sesama di Hari Raya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ:

1. Keutamaan Saling Memaafkan di Hari Raya

Hari Raya Idul Fitri adalah momen kemenangan bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa sebulan penuh. Namun, kemenangan yang sesungguhnya bukan hanya dalam menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dalam menjaga hati agar tetap bersih dari dendam dan kebencian. Allah berfirman:

وَلَا يَأْتَلِ أُو۟لُوا ٱلْفَضْلِ مِنكُمْ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا۟ أُو۟لِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينَ وَٱلْمُهَاجِرِينَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ
("Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah untuk tidak memberi (bantuan) kepada kaum kerabatnya, orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, tetapi hendaklah mereka memberi maaf dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An-Nur: 22))

2. Hadis tentang Memaafkan Kesalahan Orang Lain

Rasulullah bersabda:

مَن لا يَرحَمْ لا يُرحَمْ، ومَن لا يَغْفِرْ لا يُغْفَرْ لهُ
("Barang siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi. Dan barang siapa yang tidak memaafkan, maka dia tidak akan dimaafkan." (HR. Ahmad))

Memaafkan bukan berarti kita lemah, melainkan bentuk kebesaran jiwa dan ketundukan kita kepada perintah Allah.

3. Kisah Rasulullah dalam Memaafkan

Rasulullah adalah teladan dalam memberikan maaf, bahkan kepada orang-orang yang telah menyakiti beliau. Salah satu kisah yang terkenal adalah saat Rasulullah menaklukkan Makkah (Fathu Makkah). Para penduduk Quraisy yang dulu memusuhi dan menyakiti beliau merasa takut akan pembalasan. Namun, Rasulullah dengan penuh kasih sayang berkata:

لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ ٱلْيَوْمَ يَغْفِرُ ٱللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
("Tidak ada celaan atas kalian hari ini, semoga Allah mengampuni kalian. Dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (QS. Yusuf: 92))

Sikap Rasulullah ini mengajarkan kepada kita bahwa memaafkan adalah jalan menuju kedamaian dan keharmonisan.

4. Membangun Silaturahmi yang Kuat di Hari Raya

Idul Fitri menjadi kesempatan terbaik untuk memperbaiki hubungan yang retak. Cara yang bisa dilakukan di antaranya:

  • Menyambung silaturahmi dengan keluarga dan sahabat yang sudah lama tidak berkomunikasi.
  • Tidak gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu, meskipun merasa tidak bersalah.
  • Menghindari perselisihan dengan tetap menjaga tutur kata yang baik.

Rasulullah bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
("Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim))

5. Kesimpulan: Raih Keberkahan dengan Hati yang Bersih

Hari Raya bukan hanya tentang kemenangan setelah berpuasa, tetapi juga tentang kemenangan dalam mengalahkan ego dan memurnikan hati. Mari kita jadikan Idul Fitri sebagai momen untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan dengan sesama agar kita mendapatkan keberkahan dari Allah .

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Posting Komentar

0 Komentar

Ads